Asian Human Rights Commission - Indonesia - [Indonesian Site] [ Bahasa | English ]
| Home | AHRC Indonesia Website | Berlangganan | Berlangganan MN | Archive | AHRC Site
Search this section:
Printer Friendly Version
ASIA: Angkhana, Suciwati, dan Padma dinominasikan untuk Korean Award

SIARAN PERS
AHRC-PL-022-2006

ASIA: Angkhana, Suciwati, dan Padma dinominasikan untuk Korean Award

(Hong Kong, 30 Maret 2006) AHRC pada hari Kamis menominasikan Angkhana Neelaphaijit, Suciwati Munir dan Padma Perera untuk menerima secara bersama-sama penghargaan 2006 untuk Gwangju Prize for Human Rights.

Organisasi HAM regional berbasis di Hong Kong menyatakan ketiga perempuan tersebut -semuanya adalah istri pembela HAM yang dibunuh- adalah "pencapaian tertinggi" atas perjuangan untuk membela HAM di Asia.

" Ketiganya¡K..melambangkan perjuangan melawan kekejaman dan represi mendalam yang tidak bisa ditolerir di Asia yang menjadi perwujudan semangat May 18 Uprising". Jack Clancey, Ketua AHRC dan Basil Fernando, Direktur Eksekutif AHRC yang sebelumnya menerima penghargaan yang bernilai tinggi ini, menyatakan pada acara nominasi tersebut.

Penghargaan ini diberikan setiap tahunnya oleh organisasi berbasis di Gwangju, May 18 Memorial Foundation, yang mempertahankan semangat pahlawan Perlawanan Mei  1980 melawan keditaktoran militer di kota selatan Korea.

AHRC menyatakan bahwa dengan memberikan penghargaan secara bersamaan terhadap ketiga orang, Angkhana, Suciwati, dan Padma, panitia seleksi akan  " mengakui tidak hanya  ketekunan mereka untuk membela HAM, tetapi  juga merupakan kewajiban kita untuk melakukan hal yang sama".

"Ketika suara-suara protes datang dari para istri dan suami korban, suara-suara yang hilang bahkan mendapat ekspresi yang lebih bergaung hebat", kata AHRC.

"Masyarakat wajib untuk merespon dan membela orang-orang ini dan suara-suara mereka. Kewajiban ini menjadi milik baik keluarga korban maupun masyarakat itu sendiri", kata AHRC.

"Satu-satunya cara masyarakat memperoleh martabatnya adalah melalui respon dan dukungan", ditegaskan AHRC.

"Kewajiban inilah yang dirasakan oleh publik Gwangju pada tahun 1980 dan setelahnya, dan inilah yang memberikan kerja yang signifikan dari May 18 Memorial Foundation dalam memberikan penghargaan setiap tahunnya", tambah AHRC.

Dengan menuntut pemerintah Thailand bertanggung jawab atas penculikan suaminya, Somchai  oleh polisi pada Maret 2004, Angkhana telah menjadi "sebuah inspirasi bagi sejumlah orang yang tak terhitung di Thailand, sebagaimana di tingkat internasional", kata AHRC.

"(Angkhana) sekarang adalah pembela HAM terdepan di masyarakatnya, tidak takut untuk mempertanyakan  pertanyaan yang tidak enak langsung kepada orang-orang yang berkuasa; pertanyaan yang menghancurkan suasana diam yang menyelimuti pembunuhan di bawah permukaan yang masih terjadi, penghilangan paksa, dan penyiksaan yang terjadi di sana", jelas AHRC.

Ini menjelaskan Suciwati, istri pengacara HAM Indonesia, Munir Said Thalib, yang diracun di penerbangan Garuda Indonesia pada September 2004, sebagai "perintis terang" gerakan HAM di negerinya.

"Dengan mengadvokasi tanpa kenal lelah atas kasus suaminya, ia telah menciptakan rasa kewajiban dan pertanggungjawaban yang tidak ada sebelumnya di pihak berwenang di sana", seperti kata AHRC.

Padma telah menjadi sebuah "simbol perlawanan terhadap kekerasan dan repersi polisi   di Sri Lanka" sejak pembunuhan suaminya, Gerald Perera di bulan November 2004, hanya beberapa hari sebelum ia akan bersaksi melawan polisi di persidangan kasus penyiksaan di Pengadilan Tinggi.

"Seperti Angkhana dan Suciwati, Padma juga mengekspresikan keteguhan untuk meneruskan perjuangan HAM di negerinya sepanjang hidupnya", kata AHRC.

"Setiap orang dari tiga nominasi ini adalah nyala kecil dari harapan di tengah-tengah  kegelapan  dan ketakutan di negerinya masing-masing. Dengan memberikan penghargaan secara bersamaan terhadap mereka untuk tahun ini, Anda akan memberikan terang baik bara May 18 Uprising  di Asia maupun bara di mereka sendiri, dan membawa lebih banyak terang untuk negerinya masing-masing, dan begitu pula, Asia secara keseluruhan", seperti yang disimpulkan AHRC.

The Gwangju Prize for Human Rights diberikan setiap tahunnya pada 18 Mei.

Penerima penghargaan akan diumumkan di Gwangju pada 28 April.

 

Posted on 2006-03-30



remarks:4
Asian Human Rights Commission
For any suggestions, please email to support@ahrchk.net.

6 users online
5465 visits
11682 hits