|
SIARAN PERS AHRC-PL-028-2006
Asia : Tiga orang istri pembela HAM dinominasikan untuk dua penghargaan internasional lagi
(Hong Kong, 13 April 2006) AHRC pada hari Kamis menominasikan secara bersama-sama Angkhana Neelaphaijit, Suciwati Munir dan Padma Perera untuk dua penghargaan ternama internasional lagi.
Organisasi HAM yang berbasis di Hong Kong menominasikan ketiga perempuan tersebut -semuanya adalah istri pembela HAM yang dibunuh- untuk Robert F Kennedy Human Rights Award dan John Humphrey Freedom Award tahun 2006.
Ketiga perempuan tersebut berjuang demi HAM dan keadilan dengan "keberanian yang luar biasa dan pada resiko serius di tingkat personal", kata Basil Fernando Direktur Eksekutif AHRC.
Kerja kolektif mereka merupakan "signifikansi luar biasa tidak hanya bagi Negari mereka sendiri, tetapi juga untuk kawasan Asia secara keseluruhan" ujar Fernando.
Pada 30 Maret AHRC menominasikan ketiganya untuk menerima secara bersamaan Gwangju Prize for Human Rights tahun 2006.
Penghargaan dari Korea itu, merupakan salah satu diantara penghargaan yang paling ternama untuk kerja-kerja HAM di Asia, diberikan setiap tahunnya oleh May 18 Memorial Foundation yang berbasis di Gwangju.
The Robert F Kennedy Human Rights Award diberikan setiap tahun oleh The Robert F Kennedy Memorial, berbasis di Washington DC.
"Setiap (kandidat bersamaan) memenuhi kriteria The Robert F Kennedy Memorial merupakan sosok perempuan yang berintegritas, kreatif, dan berkomitmen terhadap HAM" ujar Fernando.
The John Humphrey Freedom Award juga diberikan setiap tahun oleh Rights & Democracy, berbasis di Montreal, atas penghargaan terhadap John Peters Humphrey, yang menyusun draft pertama DUHAM.
Masing-masing dari ketiga nominator merupakan "bekerja di konteks negerinya masing-masing untuk menghadapi ancaman kepada pembela HAM dan keluarganya dibawah kondisi yang bermusuhan terhadap pengakuan dan aplikasi hak-hak asasi dan demokrasi dasar, sebagaimana yang terjadi di kawasan itu secara keseluruhan," hal ini dinyatakan Fernando kepada para anggota juri dari The John Humphrey Freedom Award.
Fernando menjelaskan dalam penyusunan nominasi tersebut, AHRC melakukan lebih dari sekedar melihat kualitas ketiga perempuan tersebut dan juga mempertimbangkan pentingnya pekerjaan suami-suami mereka.
"Ini menyangkut solidaritas yang murni", ujar Fernando.
"Solidaritas murni tidak hanya merupakan pernyataan penghormatan dan dukungan. Ini juga menyangkut komitmen konkret untuk membangun relasi regional dan internasional untuk perubahan", ujarnya.
"Semua penghargaan ini menawarkan kemitraan yang berarti dan hubungan yang terus berjalan kepada penerimanya", tambah Fernando.
Fernando sendiri menerima The Gwangju Prize Human Rights pada 2001.
"Kami sangat berharap bahwa nominasi ini akan dipertimbangkan secara serius", kata Fernando.
"Mereka ini adalah perempuan pekerja yang luar biasa dibawah situasi yang luar biasa", katanya.
"Mereka layak mendapat pengakuan jauh melampaui apa yang mereka terima sampai hari ini", Fernando menyimpulkan.
Posted on 2006-04-13
remarks:4 |